Machinery
JAKARTA:
Tristar Institute
Telp/Fax: 021-53151389.
Flexi; 021-49111425. 
IM3: 085775501848
Simpati: 081318230199. 
PIN BB: 24ED6A75 - 2A8798AE 
Fren: 08883271088.
PIN BB:3298F492
Simpati: 081231071701.
PIN BB: 2AEB02F6
Komplek Ruko BSD Sektor 7. Blok RL 31-32-33. Serpong - Tangerang

SURABAYA:

Kursus Wira Usaha
Jln. Raya Jemursari 234 & 244. Surabaya.
Telp: 031-8480823. 081295743779, 085851118650, 087703365283
PIN BB: 28D8E523, 5399098E, 5D817E40

Info Mesin: 031-8499799 

HP:082139081968 -  PIN 20EE107D
 088217296097 -  PIN BB: 3159B656 
 08883203340 - 081216641483.

Tristar Machinery TEC.
Telp: 031-52403038-39.
HP: 082330853729 - PIN BB: 32F31662
HP: 088852727994 - PIN BB; 3277F9F9
Tunjungan Electronic Centre Lantai 3 
Jalan Tunjungan no 5-7. Surabaya - Indonesia. 

Video Gallery

logoculinary.png

TTA

tristar royal GIF

  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.
  • : preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/tristar/public_html/bina-usaha-mandiri.com/includes/unicode.inc on line 345.

Prodi S1 Tekpan Tristar Institute-Unitomo Sukses Kembangkan Aneka Produk Olahan

Kolaborasi Tristar Institute-Universitas Dr Soetomo (Unitomo)

Dosen dan Mahasiswa Prodi S1 Tekpan Sukses Kembangkan Aneka Produk Olahan untuk Usaha Rumahan

KOLABORASI antara Lembaga Pendidikan Tristar Institute dengan Universitas Dr Soetomo (Unitomo) yang membuka program studi S1 Teknologi Pangan (Tekpan), kini mulai memperlihatkan hasilnya, setelah mereka sukses mengembangkan aneka produk olahan yang bisa diaplikasikan dalam skala komersial terutama untuk usaha rumahan (home industry).

Dosen Prodi S1 Teknologi Pangan (Tekpan) Tristar Institute-Unitomo, Haris Suseno, mengatakan, sejumlah mahasiswa yang mengambil Prodi S1 Tekpan selama tiga bulan terakhir ini sibuk melakukan penelitian untuk menyelesaikan tugas akhir (TA) dengan mengembangkan aneka produk olahan.

Aneka produk olahan yang telah diujicoba di Laboratorium Praktik Tristar Institute atara lain Krupuk Sehat, Virgin Coconut Oil (VCO), Nata de Coco Bebas Urea (ZA), Sambal Kemasan, Kaldu Ayam, Bumbu Bubuk (Kering) Siap Saji, Nugget dari Kulit Pisang, Cake dari Kulit Pisang, Nugget Vegetarian, Sponge Cake  dari Limbah (Ampas) Tahu, Yoghurt. 

Aneka produk olahan tersebut sudah dipresentasikan di hadapan dosen pembimbing maupun Presdir Tristar Group Ir Juwono Saroso MM. Bahkan beberapa produk olahan yang dikembangkan dosen bersama mahasiswa Prodi S1 Tekpan seperti Krupuk Sehat, Nata de Coco, Sambal Kemasan dan Virgin Coconut Oil (VCO) Sistem Dingin sudah direspons masyarakat dengan mengambil pelatihan di Laboratorium Praktik Tristar Institute Jl Raya Jemursari No. 234 Surabaya.

”Tingginya ekspektasi terhadap kesuksesan tersebut, maka kami dipercaya oleh owner Tristar Group untuk men-display aneka produk olahan hasil kreasi dosen dan mahasiswa Prodi S1 Tekpan pada acara Rapat Senat Terbuka Akpar Majapahit di Hotel Bumi Resort Surabaya, Sabtu, 26 November 2016 mendatang,” kata chef Haris Suseno, yang ditunjuk menjadi Ketua Tim Riset Prodi S1 Tekpan kepada kru www.culinarynews.info, Rabu (16/11/2016).

SPONGE CAKE
Dari serangkaian hasil penelitian dosen dan mahasiswa Prodi S1 Tekpan ini, yang awal bulan ini telah dipresentasikan di hadapan Presdir Tristar Group adalah Sponge Cake dari Limbah (Ampas) Tahu yang dibuat oleh Ferdianto, assistant chef Haris Suseno.

Sponge cake ini dibuat dengan memanfaatkan limbah (ampas) tahu yang selama ini jadi barang buangan alias hanya dijadikan pakan ternak oleh sebagian orang. Padahal dengan sentuhan dingin mahasiswa Prodi S1 Tekpan, ampas tahu ternyata masih bisa dimanfaatkan untuk pembuatan cake yang bernilai ekonomi.

Diakui Ferdianto, sponge cake dari ampas tahu ini teksturnya tidak selembut tepung terigu, sekalipun ampas tahu itu sudah melalui penyaringan sampai dua kali saat proses pembuatannya di laboratorium. Cita rasa sponge cake dari ampas tahu ini seperti kue bolu (jajanan rakyat tempo dulu).

Kerupuk sehat yang dikembangkan tim Teknologi Pangan Tristar Institute itu  ada dua, yakni: (1). Kerupuk protein (bahan bakunya ikan kakap), sedangkan (2). Kerupuk non protein (bahan bakunya bayam, bit, tahu dan wortel).

Pucuk dicita ulam pun tiba. Setelah menunggu beberapa pekan pasca lebaran lalu, materi pelatihan kerupuk sehat akhirnya direspons kastemer, ternyata yang berminat itu Hartono Suryaly bersama istrinya.

Hartono yang tinggal di perumahan Green Lake City America Kav. EC 2 No. 1 Jakarta itu juga dikenal sebagai seorang pengusaha. Suami istri itu mengikuti kursus private kerupuk sehat dan sambal kemasan di Laboratorium Praktik Tristar Institute pada Senin dan Selasa (29-30/08/2016).

Untuk kursus membuat kerupuk sehat, lanjut chef Haris, peserta kursus private itu diajarkan membuat lima resep kerupuk sehat berdasarkan bahan bakunya, yakni ikan kakap, bayam, bit, tahu dan wortel. 

VIRGIN COCONUT OIL
Selain itu Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute juga dipercaya untuk mengajarkan cara membuat Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni atau dikenal dengan sebutan minyak perawan atau disebut juga minyak dara kepada Jonatan Budiono, peserta kursus private VCO dari Magelang, Jateng, Selasa (04/10/2016) siang.

VCO ini merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos mucifera L.) tua segar yang diolah pada suhu rendah (-60 *C) tanpa proses pemutihan dan hidrogenasi. Proses tersebut membuat minyak kelapa ini dengan sebutan minyak perawan atau minyak dara (Virgin Coconut Oil).

VCO merupakan minyak kelapa murni yang tahan terhadap panas, cahaya, oksigen dan proses degradasi karena struktur kimianya tidak mengandung ikatan ganda. Karakteristik lain dari VOC adalah minyak ini memiliki warna jernih, beraroma lembut dan rasanya gurih.

Selain itu, VCO juga mengandung asam-asam lemak jenuh tinggi sehingga menjadikannya tidak mudah tengik saat disimpan lama. Asam-asam lemak jenuh tersebut di antaranya adalah medium chain fatty acid (MCFA) atau medium chain trygleserida (MCT), yang sangat diperlukan tubuh.

VCO tidak mengandung kolesterol yang teroksidasi dan tidak pula mengandung ikatan trans yang merupakan racun bagi metabolisme tubuh, menyebabkan diabetes, menghambat produksi insulin dan kanker. VCO juga mengandung zat antioksidan sehingga menurunkan kebutuhan akan vitamin E.

Mengonsumsi VCO secara teratur dapat mengaktifkan hormon-hormon anti penuaan (anti aging), progesteron atau DHEA serta mencegah serangan jantung, pikun, kegemukan (obesitas), kanker dan penyakit degeneratif lainnya yang berhubungan dengan penuaan dini.

VCO yang beredar di pasaran kebanyakan adalah produk impor dengan berbagai merek dagang. VCO dalam kemasan botol dengan ukuran bervariasi relatif mahal harganya dibandingkan dengan harga minyak goreng. Satu botol VCO impor produksi Portugal dengan ukuran 750 ml dibandrol Rp 500 ribu lebih.

Selain krupuk sehat dan VCO, Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute juga sukses membuat  kaldu ayam (kaldu daging sapi) bubuk. Keberhasilan membuat produk olahan ini diharapkan bisa menjadi substitusi produk sejenis yang ada di pasaran, seperti Knoor, Royco atau Masako. Dengan membuat sendiri kaldu bubuk, maka ibu-ibu  bisa menghemat uang belanja sekaligus menyalurkan hobi masak memasaknya di rumah.

Kelebihan daripada kaldu bubuk selain praktis karena bisa disimpan untuk jangka waktu yang relatif lama, juga mudah dibawa ke mana-mana sesuai kebutuhan. Penelitian yang dilakukan Tristar Institute kali ini, juga merespons permintaan kastemer yang berminat ikut pelatihan membuat kaldu bubuk dan keinginan kastemer lain yang pesan kaldu bubuk ke  Tristar Institute untuk dikirim ke luar Jawa.

NATA DE COCO
Sampai saat ini  pembuatan nata de coco oleh industri skala rumahan sampai skala menengah dan besar masih banyak yang menggunakan pupuk Urea (ZA). Tak pelak lagi jika hal ini kemudian diprotes petani karena pupuk Urea (ZA) bersubsidi untuk pemupukan padi dan tanaman pangan lainnya  tiba-tiba menghilang di pasaran, lantaran pupuk bersubsidi itu sebagian diserap oleh pelaku industri.

Repotnya, pelaku industri pembuatan nata de coco yang memanfaatkan pupuk Urea (ZA) harus berurusan dengan polisi karena menggunakan pupuk bersubsidi yang seharusnya menjadi hak petani, digunakan untuk mendukung kegiatan industri mereka. Pemanfaatan pupuk Urea (ZA) dalam industri pembuatan nata de coco tersebut berfungsi sebagai suplemen.

Nah, berangkat dari fenomena tersebut, Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute mencari terobosan cerdas dengan mengembangkan teknik pembuatan nata de coco tanpa menggunakan pupuk Urea (ZA). Percobaan pembuatan nata de coco tanpa pupuk Urea (ZA) itu  dilakukan di Laboratorium Praktik Tristar Institute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya, pada awal September 2016 lalu.

Sebagai pengganti pupuk Urea (ZA), pihaknya memanfaatkan  susu kedelai dan kecambah  Baik susu kedelai maupun kecambah di-blender (mixer) kemudian diambil sarinya --dalam bentuk cairan-- untuk dijadikan bibit nata de coco. Bakteri dalam bibit nata de coco itu adalah lactobacter atau acetobacter xylinium.

Mengingat bakteri dalam bibit nata de coco yang berbentuk cairan tersebut sangat peka terhadap guncangan maka penanganannya harus benar dan ekstra hati-hati kalau tidak ingin bibit nata de coco itu rusak dan bakterinya mati. 

Dengan keberhasilan ini, Tristar Institute  sukses mengembangkan bibit nata de coco untuk usaha skala rumahan dalam bentuk cairan tanpa menggunakan pupuk Urea (ZA), melengkapi sukses Tristar Institute yang sebelumnya juga berhasil mengembangkan bibit nata de coco dari media agar-agar (PDA) dalam bentuk jelly.

BUMBU INSTAN
Belakangan ini perkembangan dunia kuliner membuka peluang usaha yang lain, seperti pembuatan bumbu instan. Permintaan yang terus meningkat, memungkinkan pemain baru mencicipi gurihnya bisnis bumbu siap saji. Proses memasak yang cepat juga harus dilakukan pengusaha kuliner atau pemilik restoran untuk memuaskan pelayanan pelanggannya.

Maklum, memasak dalam jumlah besar biasanya membutuhkan waktu relatif lama. Padahal, jam makan pengunjung restoran sangat terbatas. Ditambah lagi untuk menghemat waktu dan tenaga, ibu-ibu rumah tangga dan juru masak lebih mengandalkan bumbu siap saji (bumbu instan). Apalagi, hasil masakan dari bumbu-bumbu ini tak kalah sedap dibanding bila diracik sendiri. 

Bumbu kering (berbentuk bubuk) yang berasal dari rempah bisa dibuat sendiri di rumah dan cara membuatnya juga relatif mudah. Nah, daripada membeli di pasaran, bumbu kering dari rempah sebaiknya dibuat sendiri karena kualitas dan kebersihannya lebih terjaga.

Berangkat dari pemikiran itu, maka peneliti dari Tristar Institute, pada pekan terakhir bulan September 2016, sukses mempersembahkan bumbu kikil, kari dan rawon dalam bentuk bubuk siap saji, setelah melalui serangkaian percobaan intensif di laboratorium.

Anda tertarik dengan inovasi cerdas ini, silakan merapat saja ke Tristar Institute  Jl Raya Jemursari 234 atau datang Kampus Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, untuk mengikuti pelatihan membuat aneka produk olahan pangan hasil kreasi Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute. (ahn)

Peduli Pelanggan, Tristar Machinery Display Aneka Peralatan Masak dengan Harga Terjangkau

Jejak-jejak Tristar Machinery Selama 2016

Peduli Layani Pelanggan, Tristar Machinery Display Aneka Peralatan Masak Berkualitas dengan Harga Terjangkau

SALAH satu unit usaha Tristar Group, Tristar Machinery, sampai saat ini punya dua outlet yakni di Jl. Raya Jemursari No. 234 dan Jl. Rungkut Mapan Utara Blok CA-24 Surabaya. Di outlet tersebut terpajang aneka jenis peralatan masak berkualitas dengan  harga terjangkau demi memenuhi kebutuhan konsumen setianya.

Tristar Machinery menyediakan berbagai peralatan masak (food machinery) mulai A sampai Z. Peralatan masak dan pendukungnya selain produksi dalam negeri, juga tidak sedikit yang harus diimpor dari China, Jepang, Eropa, bahkan didatangkan Amerika Serikat.

Berbagai jenis peralatan masak yang banyak diminati konsumen antara lain  mesin pencetak bakso, alat es puter manual, sausage stuffer (mesin filling sosis manual), mesin presto industri, freezer (mesin pendingin). food processor, blender, mixer, mini vacuum sealer, spiner, alat penapis minyak, cup sealer, hand sealer hingga continuous sealer. 

Meningkatnya permintaan berbagai jenis peralatan masak belakangan ini tidak lepas dari gencarnya pihak marketing Tristar Machinery memanfaatkan sistem penjualan melalui jasa media sosial (medsos), proaktif mengikuti pameran dan bersinergi dengan Tristar Institute maupun Laboratorium Praktik Akpat Majapahit (kelompok usaha di jaringan Tristar Group) yang rutin menghelat pelatihan dan kursusan masak.

Jejak-jejak Tristar Machinery selama 2016 memang layak diapreasiasi sebagai salah satu unit usaha dari Tristar Group yang berkontribusi cukup signifikan dalam mendukung geliat bisnis inti dalam kelompok usaha Tristar Group. Keberhasilan dalam market & sales selama 2016 menjadi bahan refleksi untuk menapaki Tahun Baru 2017 yang diprediksi bakal  semakin menggeliat seiring kian membaiknya perekonomian Jatim khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Selain memberikan berbagai kursusan kepada masyarakat, ternyata tidak sedikit kastemer yang butuh peralatan untuk buka usaha skala rumahan (home industry) usai mereka mengikuti kursusan di Tristar Institute. Inilah alasan utama kenapa Tristar Machinery hadir untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Demi kepuasan pelanggan, setiap produk yang dibeli di outlet Tristar Machinery, konsumen berhak mendapatkan pelayanan purna jual (after sales service) dan garansi pembelian. Setiap produk yang dibeli ada garansi servis (sekitar 1 tahunan). Untuk item produk tertentu, seperti mesin presto, pembeli juga mendapat spare part berupa satu buah seal karet untuk dipakai cadangan. 

Harga barang yang di-display di outlet Tristar Machinery hampir semuanya ada fasilitas diskonnya, maksimum 10 persen. Selain itu, untuk menarik pembeli, Tristar Institute juga melayani jasa antar gratis di wilayah Surabaya dan sekitarnya, untuk pembelian dengan nilai tertentu.

Sementara itu untuk pengiriman barang ke luar kota atau luar pulau, pembeli dikenakan biaya ekspedisi yang besar kecilnya disesuaikan dengan jauh dekat alamat kastemer dan ukuran (berat) barang yang akan dikirim.

Nah, Anda tertarik memesan aneka peralatan masak berkualitas dengan harga terjangkau, silakan menghubungi Tim Marketing Tristar Machinery, Jl Raya Jemursari No. 234 Surabaya, Telp. (031) 8433224-5, 085733691648, 082330853725, PIN BB 28CCC1E0, sekarang juga.

Chef Masario Ajarkan Teknik Masak Rawon Nguling, Aneka Soto, Pesmol dan Pepes Ikan Gurami

Kursus Masak di Laboratorium Praktik Tristar Institute

Chef Masario Ajarkan Teknik Masak Rawon Nguling, Aneka Soto, Pesmol dan Pepes Ikan Gurami

LABORATORIUM  Praktik Tristar Institute Jl  Raya Jemursari No. 234 Surabaya, ketempatan untuk menggelar kursus masak membuat Rawon Nguling, Aneka Soto (Soto Lamongan, Soto Madura dan Soto Banjar), Pesmol Ikan dan Pepes Ikan Gurami pada Kamis (17/11/2016) siang, pekan lalu.

Kursus masak yang dibimbing langsung oleh Masario Wahyu Saputro, SKG sebagai instrukturnya. Chef Masario, sapaan akrabnya, dibantu seorang asisten, Ferdianto. Kursus masak tersebut diikuti empat orang peserta yang datang dari Pesantren At-Thohiriyah Al-Fadiliyah (Yathofa) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Empat orang peserta kursus tersebut adalah H.M. Sadli, Parhiah, Yuliana Sari dan Linawati Devi. Pelatihan masak rawon Nguling, aneka soto, pepes ikan dan pesmol ikan gurami di Laboratorium Praktik Tristar Institute ini dibiayai H. Fadli Fadel Thohir, Ketua Yayasan Pondok Pesantren At-Thohiriyah Al-Fadiliyah (Yathofa), Lombok Tengah NTB.

Pesantren tersebut selain mendidik 500-an santri, juga mengelola Rumah Sakit (RS) Yathofa dan kawasan wisata (hotel, restoran dan pemandian) di Kembangseri Lombok Timur Nah, sebelum pembangunan kawasan wisata terpadu itu rampung, dirinya disekolahkan dulu untuk belajar masak kepada ahlinya di sini.

”Materi pelatihan di Tristar Institute yang kami ikuti selain praktik noodle making dan aneka ayam goreng, juga diajari memasak rawon, aneka soto, pepesan ikan laut, aneka mie goreng dan nasi goreng selama empat hari berturut-turut,” kata H.M. Sadli kepada kru www.culinarynews.info di sela praktik masak rawon, Kamis (17/11/2016).

Saat ini, dirinya dan tiga rekannya dipercaya mengelola kantin di RS Yathofa milik H. Fadli Fadel Thohir. Menu makanan di kantin itu sebagian besar merupakan masakan khas Lombok. Sehabis belajar masak di sini, pihaknya akan menambah ragam menu di kantin sehingga konsumen punya lebih banyak pilihan.

”Nantinya menu-menu baru ini juga kami aplikasikan di restoran yang akan dibuka di kawasan wisata Kembangseri Lombok Timur, seperti harapan Ketua Yayasan Pondok Pesantren At-Thohiriyah Al-Fadiliyah (Yathofa), Lombok Tengah, NTB,” terang H. Sadli di dampingi Parhiah, Yuliana Sari dan Linawati Devi.

Mereka antusias mendengarkan penjelasan dari chef  Masario mulai pengenalan bahan dan bumbu-bumbunya, peralatan masak hingga teknik pengolahan daging sapi (khusus untuk rawonan) dan bumbu untuk membuat rawon Nguling.

Rawon Nguling punya ciri utama dagingnya berwarna gelap dengan kuah bumbunya yang hitam kental. Rawon Nguling biasanya dihidangkan dengan krupuk udang, telur asin dan tempe goreng. Tidak lupa sambal terasi dan kecambah (taoge) pendek melengkapi sajian rawon tersebut.

”Ketenaran rawon Nguling (Probolinggo) ini juga kami akui. Oleh karena itu, kami pun tertarik belajar membuat rawon Nguling yang sudah kesohor di mana-mana dan ingin memboyong resep masakan tersebut ke Lombok,” ungkap H. Sadli kepada kru www.culinarynews.info, Kamis (17/11/2016).

Begitu pula dengan soto Madura.  Nah, untuk membuat soto Madura, yang maknyus, maka dipilihlah daging sapi dan jeroannya –hati, paru, babat dan usus yang bagus. Untuk memasak soto Madura, daging dan jeroan direbus sampai empuk bersama kuahnya. Selanjutnya daging dan jeroan itu diangkat dan dipotong-potong.

Tidak hanya itu, peserta kursus juga diajarkan cara mengolah daging ayam untuk membuat soto Lamongan dan soto Banjar. Meski sama-sama menggunakan daging ayam, antara soto Lamongan dengan soto Banjar ada perbedaannya.

Dalam penyajian, misalnya, kalau soto Banjar daging ayamnya disuir-suir dan dilengkapi dengan  perkedel, sedangkan soto Lamongan dagingnya diiris tipis-tipis ditambah koya (bubuk dari krupuk udang yang sudah dihaluskan).

Selain praktik membuat rawon Nguling dan aneka soto, chef Masario juga membekali peserta kursus dari Lombok Tengah tersebut dengan praktik masak membuat pepes ikan gurami dan pesmol ikan gurami yang bisa membuat lidah Anda bergoyang.

Teknik masak pepes dengan pesmol ikan gurami juga berbeda. Kalau membuat pepes, ikan gurami segar yang sudah dibersihkan, ditaruh di atas daun pisang, dikasih bumbu, kemudian ikannya dikukus sampai matang, baru disajikan.

Sedangkan pesmol, ikan guraminya digoreng lebih dulu dan bumbunya dibuat terpisah. Untuk penyajian pesmol, ikan gurami yang sudah matang ditaruh di piring ceper, baru bumbunya diguyurkan di atas ikan tersebut.

Nah, Anda tertarik dengan kursus wirausaha di Laboratorium Praktik Tristar Institute, silakan menghubungi Tim Front Office (FO) Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, sekarang juga. (ahn)

Chef Haris Ajarkan Teknik Masak Ayam Goreng Kremes, Ayam Goreng Kalasan, Sup Ayam

Kursus Masak di Laboratorium Praktik Tristar Institute

Chef Haris Suseno Bimbing Peserta Kursus Masak Ayam Goreng Kremes, Ayam Goreng Kalasan, Sup Ayam


PADA hari Rabu (16/11/2016) siang, Laboratorium Praktik Tristar Institute Jl Raya Jemursari No. 234 Surabaya melayani pelatihan memasak ayam goreng kremes, membuat kremesan ayam goreng, bumbu labur ayam goreng kremes, ayam goreng Kalasan, tepung fried chicken, bumbu rendeman (marinade), sup ayam dan sambal ayam goreng oleh chef Haris Suseno dan Ferdianto, asistennya.

Berbicara tentang ayam, banyak sekali masakan yang bisa diolah dan dikreasikan dari bahan dasar ayam, misalnya ayam goreng tepung, ayam kecap, balado ayam, opor ayam atau ayam goreng. Untuk ayam goreng merupakan salah satu olahan ayam yang sangat mudah dan sederhana karena pengolahannya tak membutuhkan waktu yang lama dalam memasaknya.

Barangkali jika ayam digoreng disajikan begitu-begitu saja, lama kelamaan bosan juga, makanya perlu dikreasikan lagi ayam goreng yang lezat itu dengan ditambahkan kremesannya. Yang spesial dari resep ayam goreng ini tentu saja kremesan yang menemani ayam goreng, meskipun pada dasarnya ayam goreng itu sudah memiliki rasa enak dan gurih.

Ayam goreng semakin enak dan lezat dengan kremesan yang terbuat dari tepung beras. Sekadar informasi ayam goreng kremes sendiri memang identik dengan kota Jogjakarta dan sekitarnya. Pasalnya, di kota itu banyak restoran yang menyajikan ayam goreng kremes sebagai menu utamanya. Di antara restoran yang sudah kondang menyajikan menu ayam goreng kremes yakni Restoran Ny. Suharti dan Mbok Berek.

Citarasa ayam goreng yang enak dengan kremesannya yang gurih karena terbuat dari sisa air bumbu bekas rebusan ayam dan santan semakin menciptakan kenikmatan tersendiri disetiap suapnya. Ayam goreng kremes cocok sekali disajikan dengan nasi putih yang pulen beserta sambal dan lalapannya.

Praktik membuat ayam goreng kremes ala resto inilah yang diajarkan instruktur dari Laboratorium Praktik Tristar Institute kepada peserta kursusan. Pelatihan ayam goreng kremes yang diasuh chef Haris itu diikuti empat orang peserta dari Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Empat orang peserta pelatihan itu adalah H.M. Sadli, Parhiah, Yuliana Sari dan Linawati Devi. Pelatihan masak ayam goreng kremes di Tristar Institute ini dibiayai oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren At-Thohiriyah Al-Fadiliyah (Yathofa), Lombok Tengah NTB, H. Fadli Fadel Thohir. Pesantren tersebut selain mendidik 500-an santri, juga mengelola Rumah Sakit (RS) Yathofa dan kawasan wisata (hotel, restoran dan pemandian) di Kembangseri Lombok Timur

”Nah, sebelum pembangunan kawasan wisata terpadu itu rampung, kami disekolahkan dulu untuk belajar masak kepada ahlinya. Materi pelatihan di Tristar Institute selain kursus noodle making dan aneka ayam goreng, juga belajar masak rawon, soto ayam, soto daging, pepesan ikan laut, aneka mie goreng dan nasi goreng selama empat hari berturut-turut,” kata H.M. Sadli kepada kru www.culinarynews.info di sela kursus masak aneka ayam goreng, Rabu (16/11/2016).

Saat ini, dirinya dipercaya mengelola kantin di RS Yathofa milik H. Fadli Fadel Thohir. Menu makanan di kantin itu sebagian besar merupakan masakan khas Lombok. Sehabis belajar masak di sini, pihaknya akan menambah ragam menu di kantin sehingga konsumen punya lebih banyak pilihan.

”Nantinya menu-menu baru ini juga kami aplikasikan di restoran yang akan dibuka di kawasan wisata Kembangseri Lombok Timur, seperti harapan Ketua Yayasan Pondok Pesantren At-Thohiriyah Al-Fadiliyah (Yathofa), Lombok Tengah, NTB,” terang H. Sadli di dampingi Parhiah, Yuliana Sari dan Linawati Devi.

Mereka sangat antusias mendengarkan penjelasan dari chef  Haris mulai pengenalan bahan dan bumbu-bumbunya, peralatan masak hingga teknik pengolahan ayam kremes yang enak berikut cara membuat sambalnya.

Kepada peserta kursus masak ayam kremes, chef  Haris mengatakan, untuk membuat ayam kremes yang enak, selain faktor pemilihan bumbu dan cara mengolahnya, juga aspek pemilihan ayam punya peranan penting.

Untuk skala ekonomi (buka usaha), ayam yang dipilih adalah ayam pejantan dengan bobot 750-900 gram per ekornya. Ayam pejantan ini di samping harganya ekonomis, juga mudah dicari di pasar tradisional. Selain cocok untuk dibuat ayam kremes, ayam pejantan ini juga direkomendasi untuk dibuat ayam tulang lunak.

”Selama praktik masak membuat ayam kremes, peserta selain saya ajarkan pengetahuan bahan, teknik memotong ayam yang betul, ngungkep bumbu dan masak daging ayam (bisa pakai presto), juga  diajarkan cara membuat kremesannya dan sambal bajak,” terang chef Haris, yang saat ini menempuh Program Pendidikan Pascasarjana (S2) Magister Pariwisata di STIEPARI Semarang.

Untuk daging ayam sebaiknya menggunakan ayam kampung, ayam pejantan atau ayam buras agar hasilnya lebih enak, gurih dan makyus. Sebetulnya boleh saja menggunakan daging ayang sayur, tetapi hasilnya kurang maksimal. Pasalnya, ayam goreng kremes ala resto, sebaiknya memakai ayam kampung, ayam pejantan atau ayam buras yang gurih rasanya.

”Demi menjaga agar rasanya tetap enak yang terpenting adalah saat pembuatan bumbunya harus pas, biar hasilnya tetap lezat. Saat meracik bumbu ditambahkan kunir sedikit dalam bumbu ayam goreng kremes bertujuan agar warnanya terlihat lebih cantik,” kata chef Haris Suseno memberikan tips kepada peserta pelatihan.

Nah, Anda tertarik dengan kursus wirausaha di Laboratorium Praktik Tristar Institute, silakan menghubungi Tim Front Office (FO) Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, sekarang juga.

Pembuat Pentol Bakso dari Candi Sidoarjo Datangkan Mesin Pencetak Bakso dari Tristar Machinery

Tristar Machinery Sediakan Aneka Peralatan Masak Berkualitas

Pembuat Pentol Bakso dari Candi Sidoarjo Datangkan Mesin Pencetak Bakso dari Tristar Machinery

PEMBUAT pentol bakso dari Candi Sidoarjo, Aris Moedjiono, Jumat (07/10/2016), mendatangkan mesin pencetak bakso dari Tristar Machinery Surabaya. Pembelian alat baru senilai Rp 12,6 jutaan tersebut dilakukan, setelah Aris menerima order dari pengusaha Hongkong.

Menurut informasi dari Sofyan dan Dessy, anggota tim Marketing CV Tristar Machinery, kemarin, sebelum memutuskan membeli mesin pencetak bakso di sini, Aris Moedjiono sehari-hari menyediakan pentol bakso di pasar untuk memenuhi pesanan pedagang bakso, pemilik restoran dan ibu-ibu rumah tangga di daerah Sidoarjo dan sekitarnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Namanya rejeki, bisa datang dari mana saja, salah satunya adalah pengusaha dari Hongkong, yang minta disuplai pentol bakso produksi Aris Moedjiono dari Candi Sidoarjo secara rutin.

Untuk itulah, Aris Moedjiono datang ke outlet Tristar Machinery Jl Raya Jemursari No. 234 Surabaya, guna memastikan mesin pencetak bakso --berkapasitas 1000 butir per jam-- yang dicari tersebut, barangnya tersedia (ready).

Keberadaan mesin pencetak bakso ini sangat membantu pekerjaannya untuk memenuhi permintaan pengusaha Hongkong tersebut. Pasalnya, pentol bakso itu rencananya dikirim ke Hongkong –dengan jasa angkutan pesawat terbang atau kapal laut—dan dikemas dalam bentuk frozen (beku), agar pentol bakso itu tidak rusak sesampai di alamat pemesan yang jaraknya ribuan kilometer dari Sidoarjo.

Menurut Sofyan dari Tristar Machinery, alat pencetak bakso ini harga ritelnya dibandrol Rp 12,6 jutaan per unit. Mengingat pembelinya beralamat di daerah Candi Sidoarjo, maka pihak ekspedisi dari Tristar Machinery yang mengirim langsung mesin pencetak bakso ini ke alamat pembeli.

Berbeda dengan mesin blender bakso tipe R-22 berkapasitas 3 kilogram pesanan Arsyi H. Tamsil, pemilik Restoran Pelangi, Tual, Maluku Tenggara ini, pengapalannya diurus oleh perusahaan jasa ekspedisi yang menjadi langganan dari pihak pembeli mesin tersebut.

”Tristar Machinery hanya mengepakkan mesin blender bakso --yang dibandrol Rp 3,610 jutaan per unit-- agar memudahkan handling-nya saat barang tersebut dikapalkan ke Maluku Tenggara dari Pelabuhan Tanjung Perak,” tutur Sofyan di dampingi Subangkit, teknisi Tristar Machinery, kepada kru www.culinarynews.info, kemarin.

Marketing Tristar Machinery, Dessy menambahkan, beberapa barang yang baru datang (new arrival) kini dipajang di outlet Tristar Machinery, di antaranya adalah dua unit oven aluminium yang dibandrol Rp 3,6 jutaan per unit. Harga satu paket oven aluminium itu terdiri dari rak oven, ovennya sendiri (terdiri dari dua rak) dan selang elpiji.

Selain oven aluminium, di outlet Tristar Machinery juga men-display rak roti (bakery pon) –tersusun atas 15 rak— sedangkan harga per unitnya dipatok Rp 2,09 jutaan. Tinggi rak roti tersebut sekitar 175-180 cm. Barang yang baru datang berikutnya adalah mesin penapis minyak berkapasitas 1,5 kilogram dan harga ritelnya dipatok Rp 2,25 jutaan per unitnya. 

Menurut Asisten Direktur CV Tristar Machinery Andrian L. Bandono, memasuki semester II Tahun 2016, permintaan aneka peralatan masak dan mesin pemroses makanan trennya semakin meningkat. Sehingga, pihaknya kewalahan melayani order dari pelanggan, baik di Jatim maupun luar Jawa khususnya dari wilayah  Timur Indonesia, termasuk pelanggan dari Timor Leste.

Nah, untuk informasi lebih lanjut seputar sisik melik peralatan masak untuk usaha skala rumahan (home industry) berkualitas dengan harga terjangkau, Anda bisa menghubungi Tim Marketing Tristar Machinery, Jl Raya Jemursari No. 234 dan 244 Surabaya Telp. (031) 8433224-25, sekarang juga.

Pengelola Café & Resto dari Magelang Belajar Teknik Membuat ”Virgin Coconut Oil” (VCO) Sistem Dingin

Praktik VCO Bersama Lydia Nursanti, Instruktur Tristar Institute

Pengelola Café & Resto dari Magelang Belajar Teknik Membuat ”Virgin Coconut Oil” (VCO) Sistem Dingin

UNTUK kali kesekian, Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute Surabaya dipercaya untuk mengajarkan cara membuat Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni atau dikenal dengan sebutan minyak perawan atau disebut juga minyak dara kepada Jonatan Budiono dan mamanya, peserta kursus private VCO dari Magelang, Jateng, Selasa (04/10/2016) siang.

Pelatihan membuat VCO itu dihelat di Laboratorium Praktik Tristar Institute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya, dengan instruktur Lydia Nursanti AMD.Par dengan dibantu asisten Ir Indah Fitriana dan seorang cook helper.

VCO ini merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos mucifera L.) tua segar yang diolah pada suhu rendah (-60 *C) tanpa proses pemutihan dan hidrogenasi. Proses tersebut membuat minyak kelapa ini dengan sebutan minyak perawan atau minyak dara (Virgin Coconut Oil).

VCO merupakan minyak kelapa murni yang tahan terhadap panas, cahaya, oksigen dan proses degradasi karena struktur kimianya tidak mengandung ikatan ganda.Karakteristik lain dari VOC adalah minyak ini memiliki warna jernih, beraroma lembut dan rasanya gurih.

Selain itu, VCO juga mengandung assam-asam lemak jenuh tinggi sehingga menjadikannya tidak mudah tengik saat disimpan lama. Asam-asam lemak jenuh tersebut di antaranya adalah medium chain fatty acid (MCFA) atau medium chain trygleserida (MCT), yang sangat diperlukan tubuh.

VCO tidak mengandung kolesterol yang teroksidasi dan tidak pula mengandung ikatan trans yang merupakan racun bagi metabolisme tubuh, menyebabkan diabetes, menghambat produksi insulin dan kanker. VCO juga mengandung zat antioksidan sehingga menurunkan kebutuhan akan vitamin E.

Mengonsumsi VCO secara teratur dapat mengaktifkan hormon-hormon anti penuaan (anti aging), progesteron atau DHEA serta mencegah serangan jantung, pikun, kegemukan (obesitas), kanker dan penyakit degeneratif lainnya yang berhubungan dengan penuaan dini.

VCO yang beredar di pasaran kebanyakan adalah produk impor dengan berbagai merek dagang. VCO dalam kemasan botol dengan ukuran bervariasi relatif mahal harganya dibandingkan dengan harga minyak goreng. Satu botol VCO impor produksi Portugal dengan ukuran 750 ml dibandrol Rp 500 ribu lebih.

Buah kelapa yang direkomendasi untuk pembuatan VCO cirinya sebagai berikut: (1). Kelapa berumur 11-13 bulan, tidak boleh terlalu muda atau terlalu tua, (2). Kulit sabut kelapa sudah berwarna coklat, (3). Jika dikoclak, bunyinya terdengar nyaring menandakan  jumlah air di dalam tempurung kelapa telah berkurang, (4). Jika dibelah, daging buahnya berwarna putih dengan ketebalan 10-15 mm.

Proses pembuatan VCO ada beberapa cara. Salah satunya yang dipraktikkan dalam pelatihan di laboratorium Tristar Institute adalah Pengendapan Sistem Dingin, di mana daging buah kelapa yang telah diparut diberi air plus anti oksidan. Kemudian diperas dan disaring sehingga menghasilkan santan.

”Santan ditampung dalam wadah transparan (plastik),  kemudian didiamkan selama beberapa beberapa jam sehingga terbentuk dua lapisan, yaitu krim santan dan air. Selanjutnya krim santan didiamkan lagi sehingga terbentuk tiga lapisan. Ketiga lapisan tersebut –minyak, blondo dan air-- merupakan komposisi di dalam santan yang terpisah karena perbedaan berat jenis. Lapisan paling atas yang berupa minyak merupakan Virgin Coconut Oil (VCO),” terang Santi, sapaan akrab Lydia Nursanti, instruktur dari Tristar Institute, kemarin.

Kepada peserta pelatihan VCO, Jonatan Budiono (pengelola café & resto di Magelang), Santi menjelaskan cara membuat VCO sistem dingin, bahan yang dibutuhkan adalah: kelapa parut 4 kg, air 5 liter dan air panas 1 liter, bahan antioksidan atau  butylanted hydroxytoluene (BHT) berbentuk kristal seperti gula pasir.

Cara membuat VCO sistem dingin:
(1). Kelapa parut ditambahkan air dan air panas kemudian diremas beberapa kali sehingga terbentuk santan.
(2). Untuk hasil maksimal bisa menggunakan alat pres santan lalu saring.
(3). Masukkan santan ke dalam wadah transparan (plastik) lalu tunggu selama kurang lebih dua jam hingga terbentuk dua lapisan yaitu krim santan dan air.
(4). Pisahkan krim santan dari air lalu kocok dengan mixer selama 45 menit.
(5). Masukkan krim santan yang telah dikocok ke dalam wadah transparan lalu tunggu selama delapan jam sehingga membentuk tiga lapisan yakni minyak, blondo dan air.
(6). Ambil minyak yang terdapat pada lapisan atas kemudian saring dengan kapas atau kertas saring, hasil akhir dari penyaringan adalah VCO.

Menjawab pertanyaan www.culinarynews.info, Jonatan mengatakan, niatnya belajar sekaligus praktik langsung membuat VCO di laboratorium Tristar Institute karena  mendapat tantangan dari klien di luar negeri untuk menyuplai produk olahan buah kelapa (VCO) itu secara rutin ke Amerika Serikat. Nah, sebelum menindaklanjuti tantangan itu, dirinya harus belajar dulu kepada ahlinya demi menambah pengetahuan tentang berbagai kelebihan VCO bagi kesehatan tubuh.

Menurut Sarjana Akuntansi dari UK Petra Surabaya tersebut, di wilayah pesisir Jateng dan sekitarnya, pohon kelapa banyak ditanam petani dan masyarakat sehingga pihaknya tidak kesulitan mencari buah kelapa untuk bahan baku pembuatan VCO. Di pasaran, buah kelapa bisa dicari setiap waktu tanpa harus menunggu masa panen raya pada bulan-bulan tertentu.

”Selain VCO banyak khasiatnya bagi kesehatan, minyak kelapa murni ini juga memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga wajar jika kami tertarik untuk mengusahakannya secara komersial. Saat ini saya belajar dulu bersama ahlinya,” kata Jonatan di dampingi mamanya, disela-sela pelatihan VCO di Laboratorium Praktik Tristar Institute, Selasa (04/10/2016) siang.

Anda tertarik belajar membuat VCO untuk home industry (usaha skala rumahan), silakan menghubungi Tim Marketing Divisi Teknologi Pangan dan Non-Food Tristar Institute cq Akpar Majapahit, Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-5, 085733691648, 082330853725, PIN BB 28CCC1E0, sekarang juga.

Pemkab Teluk Bintuni Minati Sambal Kemasan Hasil Kreasi Tristar Institute

Kepala BPM Ditugaskan untuk Belajar Private Sambal Kemasan

Sambal Kemasan Hasil Kreasi Tristar Institute Diminati Pemkab Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat

HASIL  kreasi cerdas dua peneliti dari Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute, Lydia Nursanti AMd.Par dan Ir Indah Fitriana, giliran diapreasi oleh Pemkab Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat. Sebelumnya pengusaha dari Jakarta juga belajar secara private membuat aneka sambal kemasan di Laboratorium Praktik Tristar Institute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya.

Bupati Teluk Bintuni menugaskan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Pemkab Teluk Bintuni, Lince Idorway, untuk mengikuti kursus private membuat aneka sambal kemasan di Laboratorium Praktik Tristar Institute pada Kamis (29/09/2016).

Peserta pelatihan itu diajarkan Lydia Nursanti dan Indah Fitriana, teknik membuat beberapa resep sambal tradisional dalam kemasan yakni Sambal Bawang, Sambal Bajak Teri, Sambal Ijo, Sambal Taliwang (dari Kaltim) dan Sambal Balacan (dari Maluku dan Papua).

Di pasaran, permintaan masyarakat terhadap sambal kemasan belakangan ini trennya semakin meningkat. Pasalnya, sambal kemasan itu selain bisa tahan lama dalam penyimpanan (3-6 bulan), juga memudahkan dalam penyajiannya bersama makanan utama.

Di swalayan hingga pasar tradisional, sambal kemasan itu sudah dikemas rapi dalam wadah plastik transparan. Dengan demikian sambal kemasan itu memudahkan pecinta sambal membawanya kemanapun karena sangat praktis dibawa kemana-mana.

Bagi Lince Idorway, kedatangannya ke Surabaya untuk kursus private di Laboratorium Praktik Tristar Institute ini adalah kali ketujuh. Sebelumnya Bu Lince, sapaan akrab Lince Idorway ini bersama stafnya, telah mengikuti kursus private membuat kue donat, kue spikoe, roti unyil, aneka sari buah (dari buah nanas, jagung dan jambu biji), kecap dan nata de coco.

Nah, karena jabatannya di Pemkab Teluk Bintuni sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM), maka suka tidak suka, mau tak mau, harus mengemban amanah untuk memberdayakan masyarakat setempat khususnya di warga lokal Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat, yang relatif tertinggal dari saudara-saudaranya di Pulau Jawa.

Dalam tugas kesehariannya Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) rutin menggelar pelatihan teknologi tepat guna yang diikuti warga lokal dari Pemkab Teluk Bintuni. Melalui pelatihan intensif  tersebut,  Pemkab Teluk Bintuni ingin mengubah mind set (pola pikir) warga setempat bagaimana mereka bisa berubah dengan mengikuti perkembangan kekinian.

”Nah melalui program pelatihan teknologi tepat guna yang berkesinambungan, saya harapkan ketrampilan peserta semakin meningkat. Demikian pula mind set-nya bisa berubah secara bertahap demi meningkatkan sosial ekonominya, tanpa harus meninggalkan kearifan lokal di daerah asalnya,” tutur Lince Idorway, yang mengaku rumahnya juga menjadi jujukan warga mengikuti pelatihan membuat aneka olahan hasil pertanian dengan mengaplikasikan teknologi tepat guna.

Intensitas kegiatan pelatihan terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat belakangan  juga semakin meningkat, seiring dengan terbentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), seperti disyaratkan UU tentang Pemerintahan Desa. Oleh karena itu, sambil menyelam minum air, pihaknya juga melakukan kunjungan kerja ke Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat (BBPM) Kemendagri di Malang.

Tujuan dari kunjungan kerja Kepala BPM di Malang itu karena Pemkab Teluk Bintuni ingin mendatangkan dua instruktur dari Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat berbagi ilmu dan pengalaman dalam kegiatan pelatihan yang akan diikuti pengurus desa dan warganya terkait dengan terbentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di desanya masing-masing.

Karena itulah, setelah dirinya belajar private membuat aneka sambal kemasan di Laboratorium Praktik Tristar Institute, maka pengalaman berharga ini bisa langsung di-share dengan peserta pelatihan aneka olahan hasil pertanian yang akan dihelat BPM Kabupaten Teluk Bintuni di Kota Bintuni dalam waktu dekat.

Nah, jika Anda tertarik menjadi peserta Kursus Wirausaha Membuat Aneka Sambal Kemasan di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Tristar Institute, silakan menghubungi Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute cq Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-5, sekarang juga.

Peneliti Tristar Institute Sukses Kembangkan Bumbu Kikil, Kare dan Rawon Bubuk Instan

Menangkap Besarnya Peluang Bisnis Bumbu Instan


Trio Peneliti Tristar Institute Berhasil Kembangkan Bumbu Kikil, Kari dan Rawon Bubuk Siap Saji



BELAKANGAN ini perkembangan dunia kuliner membuka peluang usaha yang lain, seperti pembuatan bumbu instan. Permintaan yang terus meningkat, memungkinkan pemain baru mencicipi gurihnya bisnis bumbu siap saji. Proses memasak yang cepat juga harus dilakukan pengusaha kuliner atau pemilik restoran untuk memuaskan pelayanan pelanggannya.


Maklum, memasak dalam jumlah besar biasanya membutuhkan waktu relatif lama. Padahal, jam makan pengunjung restoran sangat terbatas. Ditambah lagi untuk menghemat waktu dan tenaga, ibu-ibu rumah tangga dan juru masak lebih mengandalkan bumbu siap saji (bumbu instan). Apalagi, hasil masakan dari bumbu-bumbu ini tak kalah sedap dibanding bila diracik sendiri.


Bumbu kering (berbentuk bubuk) yang berasal dari rempah bisa dibuat sendiri di rumah dan cara membuatnya juga relatif mudah. Nah, daripada membeli di pasaran, bumbu kering dari rempah sebaiknya dibuat sendiri karena kualitas dan kebersihannya lebih terjaga.


Berangkat dari pemikiran itu, maka trio peneliti dari Tristar Institute, Lydia Nursanti AMd.Par, Ir Indah Fitriana dan chef Haris Suseno, pada pekan terakhir bulan September 2016, sukses mempersembahkan bumbu kikil, kari dan rawon dalam bentuk bubuk siap saji, setelah melalui serangkaian percobaan di Laboratorium Praktik Tristar Institute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya.


Rempah seperti kayu manis, pala bubuk, cengkih, ketumbar ataupun lada bisa dengan mudah dibuat bumbu instan. Kebanyakan rempah memiliki sifat kering sehingga bisa dengan mudah dibuat bumbu kering siap saji, karena cukup dihaluskan saja menggunakan blender atau bisa juga pakai food processor.


Meskipun terlihat hanya dihaluskan, tapi ada teknik khusus yang harus dilakukan agar aroma dan rasa rempah lebih keluar. Supaya aromanya keluar maksimal, sangrai dulu rempah yang akan dihaluskan.


Cara yang benar untuk membuat bumbu bubuk sendiri, yakni dengan menyangrai bumbu hingga harum dan aroma rempahnya keluar, lalu tunggu hingga bumbu benar-benar dingin.Langkah selanjutnya yakni menghaluskan bumbu menggunakan bantuan blender. Proses hingga halus, jika perlu lakukan penyaringan agar bubuk yang didapatkan lebih halus. Jika sudah menjadi bubuk, sebaiknya simpan di dalam wadah kedap udara dan letakkan di tempat yang kering.


Berikut proses pembuatannya:
Cara membuat Bumbu Dasar:
1. Haluskan semua bahan kecuali gula dan minyak untuk menumis, hingga halus benar.
2. Panaskan minyak untuk menumis, tumis bumbu sampai harum dan matang. Masukkan gula, tumis sebentar, angkat dan dinginkan.
3. Masukkan ke dalam toples, siap digunakan.
4. Bumbu dasar bisa disimpan dalam kulkas selama tiga bulan. Jika ingin memasak, ambillah sedikit dan masukkan bumbu tambahan lain seperti daun salam, daun pandan, atau daun jeruk.


Bumbu Dasar Merah
Bahan:
Cabai merah (buang bijinya), bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, gula pasir, garam, minyak goreng (saat mem-blender), dan minyak goreng saat menumis. Bumbu ini cocok untuk memasak nasi goreng, sambal goreng (ditambah lengkuas, salam, dan santan), dan lain-lain.


Bumbu Dasar Putih
Bahan:
Bawang merah, bawang putih, kemiri, lengkuas dirajang halus, garam, gula pasir, minyak goreng (untuk mem-blender), minyak goreng untuk menumis. Bumbu ini cocok untuk makanan berwarna, misalnya rawon, semur, bisa juga untuk tumisan, mie goreng, dan oseng-oseng.


Bumbu Dasar Kuning
Bahan:
Kemiri, bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe,  lengkuas, lada bubuk, garam, gula pasir, minyak untuk mem-blender, minyak untuk menumis. Bumbu ini misalnya untuk macam-macam soto, pesmol, acar, terik daging, sampai bumbu ayam goreng dan mie goreng.


Bumbu Dasar Oranye
Bahan
Cabai merah buang biji, jinten, adas manis bubuk, ketumbar bubuk, kemiri, gr bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, lengkuas, lada bubuk, garam, gula pasir, minyak goreng untuk mem-blender, dan minyak untuk menumis. Bumbu ini untuk kari, gulai, rendang, dan macam-macam masakan yang berwarna oranye.


Sukses trio peneliti dari Tristar Institute mengembangkan bumbu instan siap saji ini melengkapi keberhasilan sebelumnya, di mana dua peneliti mudanya, Lydia Nursanti dan Indah Fitiana berhasil mempersembahkan kaldu ayam dan kaldu daging sapi bubuk yang tidak kalah dari produk pabrikan seperti Knoor, Royco atau Masako.


Bumbu siap saji persembahan trio peneliti Tristar Institute ini juga diapresiasi oleh Presdir Tristar Group Ir Juwono Saroso MM. Salah satu tiga bumbu instan itu, yakni bumbu rawon langsung diaplikasikan dengan membuat masakan rawon di Dapur Uji Tristar Institute Surabaya. Hasilnya memang luar biasa. Wow…, citarasa masakan rawonnya benar-benar sedap, nikmat dan bikin lidah bergoyang!


Anda tertarik dengan inovasi cerdas ini, silakan merapat saja ke Tristar Institute  Jl Raya Jemursari 234 atau datang Kampus Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, untuk mengikuti pelatihan membuat bumbu siap saji hasil kreasi Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute.

Kaldu Ayam dan Kaldu Daging Sapi Bubuk Persembahan Santi dan Indah, Peneliti Muda dari Tristar Institute

Satu Lagi Kreasi Terbaru Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute

Kaldu Ayam dan Kaldu Daging Sapi Bubuk Persembahan Santi dan Indah, Peneliti Muda dari Tristar Institute

DUA PENELITI dari Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute Lydia Nursanti AMd..Par dan Indah Fitriana ST kembali mempersembahkan hasil penelitiannya berupa kaldu ayam bubuk dan kaldu daging sapi bubuk.


Melalui serangkaian riset intensif, Santi, sapaan akrab Lydia Nursanti dan Indah Fitriana berhasil membuat kaldu ayam bubuk dan kaldu daging sapi bubuk yang lezat dan nikmat.


Percobaan pembuatan kaldu ayam bubuk dan kaldu daging sapi bubuk itu  dilakukan kedua peneliti muda tersebut di Laboratorium Praktik Tristar Insttiute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya pada pertengahan September 2016.
Kaldu ayam (kaldu daging sapi) bubuk yang dikembangkan peneliti dari Tristar Institute ini diharapkan bisa menjadi substitusi produk sejenis yang ada di pasaran, seperti Knoor, Royco atau Masako. Dengan membuat sendiri kaldu bubuk, maka ibu-ibu  bisa menghemat uang belanja sekaligus menyalurkan hobi masak memasaknya di rumah.


Kepada kru www.culinarynews.info, Lydia Nursanti mengatakan, kelebihan daripada kaldu bubuk selain praktis karena bisa disimpan untuk jangka waktu yang relatif lama, juga mudah dibawa ke mana-mana sesuai kebutuhan.
Penelitian yang dilakukan Tristar Institute kali ini, juga merespons permintaan kastemer yang berminat ikut pelatihan membuat kaldu bubuk dan keinginan kastemer lain yang pesan kaldu bubuk ke  Tristar Institute untuk dikirim ke luar Jawa.
Membuat kaldu ayam (kaldu daging sapi) bubuk sendiri kadang-kadang merepotkan karena biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Tulang dan daging ayam (tulang dan daging sapi) + sayur-sayuran dan bumbu, direbus sampai beberapa jam hingga semua sarinya keluar dan menjadi kaldu yang gurih dan enak.
Solusi ibu-ibu yang mau praktis dan cepat adalah membeli kaldu instan yang tinggal dipakai untuk memasak. Memang mudah sekali, tinggal masukkan saja ke dalam masakan. Kaldu bubuk cukup ditambahkan ke dalam sup seperti sup ayam, soto ayam dan berbagai jenis makanan yang memerlukan kaldu.


Tapi pada umumnya kaldu ayam (kaldu daging sapi) bubuk yang tersedia di pasaran, mengandung bahan-bahan yang tidak diinginkan seperti monosodium glutamate (MSG) atau penyedap rasa dan pewarna makanan (umumnya pewarna kuning).

”Nah untuk amannya, sebaiknya Anda membuat sendiri kaldu ayam (kaldu daging sapi) bubuk. Untuk membikinnya tidak susah tetapi harus sedikit telaten, yang penting hasilnya ciamik, sekaligus juga sehat dan aman,” kata Santi, di Laboratorium Praktik Tristar Institute, Selasa (20/09/2016).

Bahan yang diperlukan:
1.    Ayam Filled (Daging Sapi)
2.    Bawang Bombay
3.    Bawang Putih
4.    Wortel
5.    Seledri
6.    Bawang Prei
7.    Garam
8.    Vetsin
9.    Merica
10. Gula

Cara membuatnya:
Semua bahan tersebut dimasukkan ke dalam food processor. Dihaluskan sampai halus. Kemudian dipanaskan (disangrai) di atas wajan anti lengket sampai kering,  Selanjutnya untuk mengeringkan lebih lanjut digunakan oven (dehidrator)  dengan api kecil pada suhu 30 *C.


Lalu ratakan adonan ayam (daging sapi) di atas loyang dan panggang hingga kering dengan api yang sangat kecil. Aduk-aduk dan bolak balik hingga kering. Angkat dan dinginkan bila sudah kering.


Langkah berikutnya gunakan blender untuk menghaluskan kaldu ayam (kaldu daging sapi) tersebut, lalu diayak (penepungan) dan simpan di dalam toples yang kedap udara. Kaldu ayam  (daging sapi) bubuk ini karena tanpa bahan pengawet tidak dapat disimpan lama, tergantung seberapa kering dalam proses pembuatannya. Biasanya bisa bertahan sampai satu bulan. Untuk membuatnya lebih tahan lama, simpan kaldu bubuk ini di dalam lemari es.


”Riset membuat kaldu ayam dan kaldu daging sapi bubuk  itu kami lakukan pada pertengahan September ini,” kata Santi sapaan akrab Lydia Nursanti dan Indah Fitriana kepada kru www.culinarynews.info di Laboratorium Praktik Tristar Institute, Selasa (20/09/2016) siang.

Anda tertarik dengan inovasi cerdas ini, silakan merapat saja ke Tristar Institute  Jl Raya Jemursari 234 atau datang Kampus Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, untuk mengikuti pelatihan membuat kaldu bubuk hasil kreasi Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute.

Dua Peneliti Tristar Institute Sukses Kembangkan Bibit Nata de Coco tanpa Pupuk Urea (ZA)

Kreasi Terbaru Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute



Santi dan Indah, Dua Peneliti Tristar Institute Sukses Kembangkan Bibit Nata de Coco tanpa Pupuk Urea (ZA)

SAMPAI saat ini  pembuatan nata de coco oleh industri skala rumahan sampai skala menengah dan besar masih banyak yang menggunakan pupuk Urea (ZA). Tak pelak lagi jika hal ini kemudian diprotes petani karena pupuk Urea (ZA) bersubsidi untuk pemupukan padi dan tanaman pangan lainnya  tiba-tiba menghilang di pasaran, lantaran pupuk bersubsidi itu sebagian diserap oleh pelaku industri.


Repotnya, pelaku industri pembuatan nata de coco yang memanfaatkan pupuk Urea (ZA) harus berurusan dengan polisi karena menggunakan pupuk bersubsidi yang seharusnya menjadi hak petani, digunakan untuk mendukung kegiatan industri mereka. Pemanfaatan pupuk Urea (ZA) dalam industri pembuatan nata de coco tersebut berfungsi sebagai suplemen.


Nah, berangkat dari fenomena tersebut, dua orang peneliti dari Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute, Lydia Nursanti, AMd.Par dan Indah Fitriana ST, mencari terobosan cerdas dengan mengembangkan teknik pembuatan nata de coco tanpa menggunakan pupuk Urea (ZA).


Percobaan pembuatan nata de coco tanpa pupuk Urea (ZA) itu  dilakukan kedua peneliti muda tersebut di Laboratorium Praktik Tristar Insttiute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya pada awal September 2016 lalu.


Sebagai pengganti pupuk Urea (ZA), Lydia Nursanti dan Indah Fitriana memanfaatkan  susu kedelai dan kecambah  Baik susu kedelai maupun kecambah di-blender (mixer) kemudian diambil sarinya --dalam bentuk cairan-- untuk dijadikan bibit nata de coco. Bakteri dalam bibit nata de coco itu adalah lactobacter atau acetobacter xylinium.


Mengingat bakteri dalam bibit nata de coco yang berbentuk cairan tersebut sangat peka terhadap guncangan maka penanganannya harus benar dan ekstra hati-hati kalau tidak ingin bibit nata de coco itu rusak dan bakterinya mati. 


Dengan keberhasilan ini, Tristar Institute  sukses mengembangkan bibit nata de coco untuk usaha skala rumahan dalam bentuk cairan tanpa menggunakan pupuk Urea (ZA), melengkapi sukses Tristar Instriute yang sebelumnya juga berhasil mengembangkan bibit nata de coco dari media agar-agar (PDA) dalam bentuk jelly.
”Riset membuat bibit nata de coco dalam bentuk jelly  itu kami lakukan pada Maret 2015 silam,” kata Santi sapaan akrab Lydia Nursanti dan Indah Fitriana kepada kru www.culinarynews.info di Laboratorium Praktik Tristar Institute, Sabtu (17/09/2016) siang.


Sementara itu pada riset membuat bibit nata de coco dalam bentuk jelly, ketika itu, karena bibit nata de coco yang selama ini dibeli orang untuk usaha skala rumahan dalam bentuk cairan. Untuk pengiriman bibit nata de coco jarak jauh sangat riskan karena mudah rusak dan bakterinya mati mengingat bakteri dalam bibit nata de coco, yakni acetobacter xylinum atau lactobacter yang berbentuk cairan tersebut sangat peka terhadap guncangan.


Untuk pengirimannya agar aman tentu butuh penanganan khusus. Tujuannya agar bibit nata de coco dalam bentuk cair yang dimasukkan botol itu tidak rusak setelah sampai di tujuan. ”Terobosan itu ternyata sukses kami kembangkan setelah melalui serangkaian penelitian intensif di laboratorium Tristar Institute,” terangnya.


Masih menurut Santi, bahan yang disiapkan untuk membuat bibit nata de coco dari media agar-agar (PDA) adalah agar-agar, kentang, dextrose. Proses untuk membuat bibit nata de coco dari PDA sekitar tiga hari.


Kini pihaknya mendapat pesanan dari pembeli dari Jakarta dan kota-kota lain di luar Jawa. Untuk tahap awal, pemesan hanya mengambil dua tabung reaksi dengan mengganti biaya produksi Rp 400 ribuan. Untuk pengiriman bibit nata de coco dari media agar-agar (PDA) ke Jakarta, misalnya, ongkos kirimnya ditanggung oleh pihak pembeli.


Anda tertarik dengan inovasi cerdas ini, silakan merapat saja ke Tristar Institute  Jl Raya Jemursari 234 atau datang Kampus Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, untuk memesan bibit nata de coco hasil kreasi Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute.

Kampus Tristar Institute, ada di:
Tangerang || Jl. Pahlawan Seribu – Raya Serpong Ruko BSD Sektor 7 Blok RL 31-33
Telp. 021-5380668, 0813 3656 3094, 081232539310, 081217929008,  PIN. D34223AE
Bogor || Jl. Bina Marga No. 19
Telp : 0251-8574434, 081217929008, 082231372022, Pin BB : 53B4EFD8, 2A6A1F4E
Surabaya || Jl. Raya Jemursari 244
Telp. 031-8433224, 0813 5786 6283, PIN. 2B517ECB
Surabaya || Jl. Raya Dukuh Kupang 157B
Telp. 031-8480821-22, 0812 1618 1016, PIN. 25D164CF
Surabaya || Jl. Raya Kaliwaron 58 -60
Telp. 031-5999593, 0822 3005 9993
Kota Batu || Jl. Bukit Berbunga No. 10
Telp. 0341-3061525, 0812 3253 9310, PIN. D34223AE

Pencarian
Tristar Ameekom
Kursus Pengerjaan Elektrikal, HVAC, Elektronik, dan masih banyak lagi

Kunjungi Website kami untuk keterangan lebih lanjut
Who's online
There are currently 0 users and 1 guest online.
Online User