Prodi S1 Tekpan Tristar Institute-Unitomo Sukses Kembangkan Aneka Produk Olahan
Peduli Pelanggan, Tristar Machinery Display Aneka Peralatan Masak dengan Harga Terjangkau
Chef Masario Ajarkan Teknik Masak Rawon Nguling, Aneka Soto, Pesmol dan Pepes Ikan Gurami
Chef Haris Ajarkan Teknik Masak Ayam Goreng Kremes, Ayam Goreng Kalasan, Sup Ayam
Pembuat Pentol Bakso dari Candi Sidoarjo Datangkan Mesin Pencetak Bakso dari Tristar Machinery
Pengelola Café & Resto dari Magelang Belajar Teknik Membuat ”Virgin Coconut Oil” (VCO) Sistem Dingin
Pemkab Teluk Bintuni Minati Sambal Kemasan Hasil Kreasi Tristar Institute
Peneliti Tristar Institute Sukses Kembangkan Bumbu Kikil, Kare dan Rawon Bubuk Instan
Trio Peneliti Tristar Institute Berhasil Kembangkan Bumbu Kikil, Kari dan Rawon Bubuk Siap Saji
BELAKANGAN ini perkembangan dunia kuliner membuka peluang usaha yang lain, seperti pembuatan bumbu instan. Permintaan yang terus meningkat, memungkinkan pemain baru mencicipi gurihnya bisnis bumbu siap saji. Proses memasak yang cepat juga harus dilakukan pengusaha kuliner atau pemilik restoran untuk memuaskan pelayanan pelanggannya.
Maklum, memasak dalam jumlah besar biasanya membutuhkan waktu relatif lama. Padahal, jam makan pengunjung restoran sangat terbatas. Ditambah lagi untuk menghemat waktu dan tenaga, ibu-ibu rumah tangga dan juru masak lebih mengandalkan bumbu siap saji (bumbu instan). Apalagi, hasil masakan dari bumbu-bumbu ini tak kalah sedap dibanding bila diracik sendiri.
Bumbu kering (berbentuk bubuk) yang berasal dari rempah bisa dibuat sendiri di rumah dan cara membuatnya juga relatif mudah. Nah, daripada membeli di pasaran, bumbu kering dari rempah sebaiknya dibuat sendiri karena kualitas dan kebersihannya lebih terjaga.
Berangkat dari pemikiran itu, maka trio peneliti dari Tristar Institute, Lydia Nursanti AMd.Par, Ir Indah Fitriana dan chef Haris Suseno, pada pekan terakhir bulan September 2016, sukses mempersembahkan bumbu kikil, kari dan rawon dalam bentuk bubuk siap saji, setelah melalui serangkaian percobaan di Laboratorium Praktik Tristar Institute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya.
Rempah seperti kayu manis, pala bubuk, cengkih, ketumbar ataupun lada bisa dengan mudah dibuat bumbu instan. Kebanyakan rempah memiliki sifat kering sehingga bisa dengan mudah dibuat bumbu kering siap saji, karena cukup dihaluskan saja menggunakan blender atau bisa juga pakai food processor.
Meskipun terlihat hanya dihaluskan, tapi ada teknik khusus yang harus dilakukan agar aroma dan rasa rempah lebih keluar. Supaya aromanya keluar maksimal, sangrai dulu rempah yang akan dihaluskan.
Cara yang benar untuk membuat bumbu bubuk sendiri, yakni dengan menyangrai bumbu hingga harum dan aroma rempahnya keluar, lalu tunggu hingga bumbu benar-benar dingin.Langkah selanjutnya yakni menghaluskan bumbu menggunakan bantuan blender. Proses hingga halus, jika perlu lakukan penyaringan agar bubuk yang didapatkan lebih halus. Jika sudah menjadi bubuk, sebaiknya simpan di dalam wadah kedap udara dan letakkan di tempat yang kering.
Berikut proses pembuatannya:
Cara membuat Bumbu Dasar:
1. Haluskan semua bahan kecuali gula dan minyak untuk menumis, hingga halus benar.
2. Panaskan minyak untuk menumis, tumis bumbu sampai harum dan matang. Masukkan gula, tumis sebentar, angkat dan dinginkan.
3. Masukkan ke dalam toples, siap digunakan.
4. Bumbu dasar bisa disimpan dalam kulkas selama tiga bulan. Jika ingin memasak, ambillah sedikit dan masukkan bumbu tambahan lain seperti daun salam, daun pandan, atau daun jeruk.
Bumbu Dasar Merah
Bahan:
Cabai merah (buang bijinya), bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, gula pasir, garam, minyak goreng (saat mem-blender), dan minyak goreng saat menumis. Bumbu ini cocok untuk memasak nasi goreng, sambal goreng (ditambah lengkuas, salam, dan santan), dan lain-lain.
Bumbu Dasar Putih
Bahan:
Bawang merah, bawang putih, kemiri, lengkuas dirajang halus, garam, gula pasir, minyak goreng (untuk mem-blender), minyak goreng untuk menumis. Bumbu ini cocok untuk makanan berwarna, misalnya rawon, semur, bisa juga untuk tumisan, mie goreng, dan oseng-oseng.
Bumbu Dasar Kuning
Bahan:
Kemiri, bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, lengkuas, lada bubuk, garam, gula pasir, minyak untuk mem-blender, minyak untuk menumis. Bumbu ini misalnya untuk macam-macam soto, pesmol, acar, terik daging, sampai bumbu ayam goreng dan mie goreng.
Bumbu Dasar Oranye
Bahan
Cabai merah buang biji, jinten, adas manis bubuk, ketumbar bubuk, kemiri, gr bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, lengkuas, lada bubuk, garam, gula pasir, minyak goreng untuk mem-blender, dan minyak untuk menumis. Bumbu ini untuk kari, gulai, rendang, dan macam-macam masakan yang berwarna oranye.
Sukses trio peneliti dari Tristar Institute mengembangkan bumbu instan siap saji ini melengkapi keberhasilan sebelumnya, di mana dua peneliti mudanya, Lydia Nursanti dan Indah Fitiana berhasil mempersembahkan kaldu ayam dan kaldu daging sapi bubuk yang tidak kalah dari produk pabrikan seperti Knoor, Royco atau Masako.
Bumbu siap saji persembahan trio peneliti Tristar Institute ini juga diapresiasi oleh Presdir Tristar Group Ir Juwono Saroso MM. Salah satu tiga bumbu instan itu, yakni bumbu rawon langsung diaplikasikan dengan membuat masakan rawon di Dapur Uji Tristar Institute Surabaya. Hasilnya memang luar biasa. Wow…, citarasa masakan rawonnya benar-benar sedap, nikmat dan bikin lidah bergoyang!
Anda tertarik dengan inovasi cerdas ini, silakan merapat saja ke Tristar Institute Jl Raya Jemursari 234 atau datang Kampus Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, untuk mengikuti pelatihan membuat bumbu siap saji hasil kreasi Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute.
Kaldu Ayam dan Kaldu Daging Sapi Bubuk Persembahan Santi dan Indah, Peneliti Muda dari Tristar Institute
Kaldu Ayam dan Kaldu Daging Sapi Bubuk Persembahan Santi dan Indah, Peneliti Muda dari Tristar Institute
DUA PENELITI dari Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute Lydia Nursanti AMd..Par dan Indah Fitriana ST kembali mempersembahkan hasil penelitiannya berupa kaldu ayam bubuk dan kaldu daging sapi bubuk.
Melalui serangkaian riset intensif, Santi, sapaan akrab Lydia Nursanti dan Indah Fitriana berhasil membuat kaldu ayam bubuk dan kaldu daging sapi bubuk yang lezat dan nikmat.
Percobaan pembuatan kaldu ayam bubuk dan kaldu daging sapi bubuk itu dilakukan kedua peneliti muda tersebut di Laboratorium Praktik Tristar Insttiute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya pada pertengahan September 2016.
Kaldu ayam (kaldu daging sapi) bubuk yang dikembangkan peneliti dari Tristar Institute ini diharapkan bisa menjadi substitusi produk sejenis yang ada di pasaran, seperti Knoor, Royco atau Masako. Dengan membuat sendiri kaldu bubuk, maka ibu-ibu bisa menghemat uang belanja sekaligus menyalurkan hobi masak memasaknya di rumah.
Kepada kru
www.culinarynews.info
, Lydia Nursanti mengatakan, kelebihan daripada kaldu bubuk selain praktis karena bisa disimpan untuk jangka waktu yang relatif lama, juga mudah dibawa ke mana-mana sesuai kebutuhan.
Penelitian yang dilakukan Tristar Institute kali ini, juga merespons permintaan kastemer yang berminat ikut pelatihan membuat kaldu bubuk dan keinginan kastemer lain yang pesan kaldu bubuk ke Tristar Institute untuk dikirim ke luar Jawa.
Membuat kaldu ayam (kaldu daging sapi) bubuk sendiri kadang-kadang merepotkan karena biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Tulang dan daging ayam (tulang dan daging sapi) + sayur-sayuran dan bumbu, direbus sampai beberapa jam hingga semua sarinya keluar dan menjadi kaldu yang gurih dan enak.
Solusi ibu-ibu yang mau praktis dan cepat adalah membeli kaldu instan yang tinggal dipakai untuk memasak. Memang mudah sekali, tinggal masukkan saja ke dalam masakan. Kaldu bubuk cukup ditambahkan ke dalam sup seperti sup ayam, soto ayam dan berbagai jenis makanan yang memerlukan kaldu.
Tapi pada umumnya kaldu ayam (kaldu daging sapi) bubuk yang tersedia di pasaran, mengandung bahan-bahan yang tidak diinginkan seperti monosodium glutamate (MSG) atau penyedap rasa dan pewarna makanan (umumnya pewarna kuning).
”Nah untuk amannya, sebaiknya Anda membuat sendiri kaldu ayam (kaldu daging sapi) bubuk. Untuk membikinnya tidak susah tetapi harus sedikit telaten, yang penting hasilnya ciamik, sekaligus juga sehat dan aman,” kata Santi, di Laboratorium Praktik Tristar Institute, Selasa (20/09/2016).
Bahan yang diperlukan:
1. Ayam Filled (Daging Sapi)
2. Bawang Bombay
3. Bawang Putih
4. Wortel
5. Seledri
6. Bawang Prei
7. Garam
8. Vetsin
9. Merica
10. Gula
Cara membuatnya:
Semua bahan tersebut dimasukkan ke dalam food processor. Dihaluskan sampai halus. Kemudian dipanaskan (disangrai) di atas wajan anti lengket sampai kering, Selanjutnya untuk mengeringkan lebih lanjut digunakan oven (dehidrator) dengan api kecil pada suhu 30 *C.
Lalu ratakan adonan ayam (daging sapi) di atas loyang dan panggang hingga kering dengan api yang sangat kecil. Aduk-aduk dan bolak balik hingga kering. Angkat dan dinginkan bila sudah kering.
Langkah berikutnya gunakan blender untuk menghaluskan kaldu ayam (kaldu daging sapi) tersebut, lalu diayak (penepungan) dan simpan di dalam toples yang kedap udara. Kaldu ayam (daging sapi) bubuk ini karena tanpa bahan pengawet tidak dapat disimpan lama, tergantung seberapa kering dalam proses pembuatannya. Biasanya bisa bertahan sampai satu bulan. Untuk membuatnya lebih tahan lama, simpan kaldu bubuk ini di dalam lemari es.
”Riset membuat kaldu ayam dan kaldu daging sapi bubuk itu kami lakukan pada pertengahan September ini,” kata Santi sapaan akrab Lydia Nursanti dan Indah Fitriana kepada kru
www.culinarynews.info
di Laboratorium Praktik Tristar Institute, Selasa (20/09/2016) siang.
Anda tertarik dengan inovasi cerdas ini, silakan merapat saja ke Tristar Institute Jl Raya Jemursari 234 atau datang Kampus Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, untuk mengikuti pelatihan membuat kaldu bubuk hasil kreasi Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute.
Dua Peneliti Tristar Institute Sukses Kembangkan Bibit Nata de Coco tanpa Pupuk Urea (ZA)
SAMPAI saat ini pembuatan nata de coco oleh industri skala rumahan sampai skala menengah dan besar masih banyak yang menggunakan pupuk Urea (ZA). Tak pelak lagi jika hal ini kemudian diprotes petani karena pupuk Urea (ZA) bersubsidi untuk pemupukan padi dan tanaman pangan lainnya tiba-tiba menghilang di pasaran, lantaran pupuk bersubsidi itu sebagian diserap oleh pelaku industri.
Repotnya, pelaku industri pembuatan nata de coco yang memanfaatkan pupuk Urea (ZA) harus berurusan dengan polisi karena menggunakan pupuk bersubsidi yang seharusnya menjadi hak petani, digunakan untuk mendukung kegiatan industri mereka. Pemanfaatan pupuk Urea (ZA) dalam industri pembuatan nata de coco tersebut berfungsi sebagai suplemen.
Nah, berangkat dari fenomena tersebut, dua orang peneliti dari Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute, Lydia Nursanti, AMd.Par dan Indah Fitriana ST, mencari terobosan cerdas dengan mengembangkan teknik pembuatan nata de coco tanpa menggunakan pupuk Urea (ZA).
Percobaan pembuatan nata de coco tanpa pupuk Urea (ZA) itu dilakukan kedua peneliti muda tersebut di Laboratorium Praktik Tristar Insttiute Jl. Raya Jemursari No. 234 Surabaya pada awal September 2016 lalu.
Sebagai pengganti pupuk Urea (ZA), Lydia Nursanti dan Indah Fitriana memanfaatkan susu kedelai dan kecambah Baik susu kedelai maupun kecambah di-blender (mixer) kemudian diambil sarinya --dalam bentuk cairan-- untuk dijadikan bibit nata de coco. Bakteri dalam bibit nata de coco itu adalah lactobacter atau acetobacter xylinium.
Mengingat bakteri dalam bibit nata de coco yang berbentuk cairan tersebut sangat peka terhadap guncangan maka penanganannya harus benar dan ekstra hati-hati kalau tidak ingin bibit nata de coco itu rusak dan bakterinya mati.
Dengan keberhasilan ini, Tristar Institute sukses mengembangkan bibit nata de coco untuk usaha skala rumahan dalam bentuk cairan tanpa menggunakan pupuk Urea (ZA), melengkapi sukses Tristar Instriute yang sebelumnya juga berhasil mengembangkan bibit nata de coco dari media agar-agar (PDA) dalam bentuk jelly.
”Riset membuat bibit nata de coco dalam bentuk jelly itu kami lakukan pada Maret 2015 silam,” kata Santi sapaan akrab Lydia Nursanti dan Indah Fitriana kepada kru
www.culinarynews.info
di Laboratorium Praktik Tristar Institute, Sabtu (17/09/2016) siang.
Sementara itu pada riset membuat bibit nata de coco dalam bentuk jelly, ketika itu, karena bibit nata de coco yang selama ini dibeli orang untuk usaha skala rumahan dalam bentuk cairan. Untuk pengiriman bibit nata de coco jarak jauh sangat riskan karena mudah rusak dan bakterinya mati mengingat bakteri dalam bibit nata de coco, yakni acetobacter xylinum atau lactobacter yang berbentuk cairan tersebut sangat peka terhadap guncangan.
Untuk pengirimannya agar aman tentu butuh penanganan khusus. Tujuannya agar bibit nata de coco dalam bentuk cair yang dimasukkan botol itu tidak rusak setelah sampai di tujuan. ”Terobosan itu ternyata sukses kami kembangkan setelah melalui serangkaian penelitian intensif di laboratorium Tristar Institute,” terangnya.
Masih menurut Santi, bahan yang disiapkan untuk membuat bibit nata de coco dari media agar-agar (PDA) adalah agar-agar, kentang, dextrose. Proses untuk membuat bibit nata de coco dari PDA sekitar tiga hari.
Kini pihaknya mendapat pesanan dari pembeli dari Jakarta dan kota-kota lain di luar Jawa. Untuk tahap awal, pemesan hanya mengambil dua tabung reaksi dengan mengganti biaya produksi Rp 400 ribuan. Untuk pengiriman bibit nata de coco dari media agar-agar (PDA) ke Jakarta, misalnya, ongkos kirimnya ditanggung oleh pihak pembeli.
Anda tertarik dengan inovasi cerdas ini, silakan merapat saja ke Tristar Institute Jl Raya Jemursari 234 atau datang Kampus Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, untuk memesan bibit nata de coco hasil kreasi Divisi Teknologi Pangan Tristar Institute.
Kampus Tristar Institute, ada di:
Tangerang
|| Jl. Pahlawan Seribu – Raya Serpong Ruko BSD Sektor 7 Blok RL 31-33
Telp. 021-5380668, 0813 3656 3094, 081232539310, 081217929008, PIN. D34223AE
Bogor
|| Jl. Bina Marga No. 19
Telp : 0251-8574434, 081217929008, 082231372022, Pin BB : 53B4EFD8, 2A6A1F4E
Surabaya
|| Jl. Raya Jemursari 244
Telp. 031-8433224, 0813 5786 6283, PIN. 2B517ECB
Surabaya
|| Jl. Raya Dukuh Kupang 157B
Telp. 031-8480821-22, 0812 1618 1016, PIN. 25D164CF
Surabaya
|| Jl. Raya Kaliwaron 58 -60
Telp. 031-5999593, 0822 3005 9993
Kota Batu
|| Jl. Bukit Berbunga No. 10
Telp. 0341-3061525, 0812 3253 9310, PIN. D34223AE